Fast Respon WA ke 085210623636

Iman kepada Qadar

blogger templates



 Arti iman kepada Qadar adalah kita meyakini bahwa segala perbuatan hamba yang ikhtiyariyyah dan idtirariyyah semua itu terjadi karena iradah Allah SWT sejak masa yang tidak ada permulaan dan diketahuinya pula sebelum terjadinya semua itu.
ikhtiyariyyah contohnya : berdiri, duduk, makan dan minum
idtirariyyah contohnya : jatuh, terjepit, tertabrak, dll

mungkin sesekali timbul pertanyaan, jika memang Allah itu yang menjadikan semua perbuatan hamba, apakah tidak menjadi keadaan terpaksa bagi seorang hamba dalam segala perbuatannya, yang bisa mengakibatkan menerima pahala ataupun siksa ?

Bukanlah hamba itu terpaksa, karena ada bagiannya apa yang dinamakan iradah juz’iyyah yang dapat mengolah dengan iradahNya itu untuk memalingkan sesuatu kepada sisi kebaikan dan kepada sisi kejahatan. Dan bagi si hamba itu, ia mempunyai akal dimana dia dapat mengadakan perbedaaan antara keduanya. Jika ia palingkan keinginannya kepada kebaikan, nyatalah kebaiakan itu yang dikehendakinya dan ia diberi pahala karena bukti kebaikan itu yang dikehendaknya, dan dia diberi pahala karena bukti kebaikan itu karena usahanya, dan rela bergantung iradah juz’iyyah-nya kepadaNya. Dan jika dipalingkannya ke sisi kejahatan, nyatalah kejahatan itu ia disiksa karenanya, sebab setelah nyata kejahatannya atas usaha dan bergantung kepada iradah juz’iyyah itu kepadanya.

Dapat kami jelaskan dengan terang, bahwa setiap orang dapat mengetahui bahwa ia tidak terpaksa dalam segenap perbuatannya. Karena tiap orang dapat membedakan antara gerakan tangannnya ketika menulis, dan gerakan tangannya ketika gemeter. Gerakan tangannya ketika menulis dikaitkan kepada dirinya, dan dikatan “Aku menulis dengan ikhtiarku, dan keinginanku”. Adapun gerakan tangannya ketika gemetar, maka tidak dikaitkan dengan usahanya, dan tidak dikatakan “aku menggerakkan tanganku”, bahwa dikatakan “sesungguhnya gerakan itu terjadi diluar ikhtiarku”.


Dapat diambil kesimpulan bahwa manusia itu mempunyai dua macam perbuatan. Yang pertama adalah perbuatan dengan ikhtiarnya atau kemauannya. Yang kedua adalah perbuatan tanpa ikhtiarnya. Jika perbuatan seseorang itu termasuk ikhtiariyyah maka ia mendapat pahala, dan jika amalnya itu adalah kejahatan ia mendapatkan siksa. Sedangkan perbuatan yang idtirariyyah maka ia tidak tersiksa atau ia mendapat pahala karena sesuatu dari yang demikian itu. Jika ada seseorang yang memukul orang lain secara dzalim, kemudia dia beralasan bahwa dia telah ditakdirkan untuk itu. Maka alasan itu tidak diterima di sisi Allah dan tidak bisa diterima di masyarakat. Dikarenakan dia mempunyai iradah juz’iyyah, mempunyai kemampuan, mempunyai ikhtiar dan mempunyai akal.

0 Response to "Iman kepada Qadar"

Posting Komentar