Fast Respon WA ke 085210623636

Bolehkah Dalam Satu Ibadah Memakai Lebih Dari Satu Madzhab

blogger templates
BOLEHKAH DALAM SATU IBADAH MEMAKAI LEBIH DARI SATU MADZHAB



Mencampuraduk dua Madzhab dalam satu Qodiyyah atau satu masalah disebut Talfiq. Talfiq adalah Haram. Misalnya, dalam melaksanakan wudhu hanya dengan menyapu sebagian kepala yang dibenarkan oleh Imam Syafi’i, akan tetapi dalam perkara keutuhan wudhu itu memakai Imam Hanafi, bahwa tidak batal dengan bersentuhan kulit perempuan Ajnabi tetapi menurut Imam Syafi’i itu Batal. Ini namanya mempersatukan dua Madzhab dalam satu qodiyyah. Sebab sholat orang yang hanya menyapu kepalanya ketika berwudhu, lalu menyentuh istrinya kemudian melakukan sholat, tidak dibenarkan sholatnya oleh Imam Syafi’i dan tidak dibenarkan oleh Imam Hanafi.

Memang boleh berpindah dari satu Madzhab ke Madzhab yang lain dari Madzhab-madzhab yang Mudawwanah, artinya yang sudah dibukukan seperti Madzhab-madzhab yang empat walaupun semata-mata keinginan saja, baik untuk selamanya ataupun dalam setengah kejadian, walaupun sekiranya ia berfatwa, menghukumkan dan beramal menyalahi hal tersebut selama tidak lazim, maka hal itu dinamakan Talfiq. Dalam Talkhisu Al-Murad Fatawa Ibni Ziyad pada Hamisi Bughyatu Al-Mustarsyidin halaman 265 dijelaskan ;

Sesuatu yang dapat difahami dari perbuatan mereka Fuqaha dalam maslah taqlid, bahwa penyusunan yang merusak padanya, hanya saja tertegah apabila adalah Qadhiyyah atau rumusan yang satu, seperti orang yang berwudhu dan menyentuh dengan bertaqlid pada Abi Hanifah dan membatalkan dengan bertaqlid kepada Imam Safi’ih, kemudian dilakukannya sholat, maka sholat itu batal, karena sepakat dua Imam atas bersucinya. Dan seperti ini juga, jika ia berwudhu dan menyentuh tanpa sahwat dengan bertaqlid pada Imam Malik dan dia tidak menggosok anggota wudhunya, dengan bertaqlid pada Imam Safi’ih, kemudian dia sholat maka sholatnya bata, karena sepakat dua Imam tersebut atas batal bersucinya. Lain halnya jika adalah susunan itu dari dua Qadhiyyah maka menurut apa yang nyata bahwa apa yang demikian itu tidaklah merusak padanya. Sebagaimana pabila bertaqlid penganut Imam Syafi’ih kepada Abi Hanifah pada menghadap arah kiblat dan dia tidak menyapu seperempat kepala, tidak batal sholatnya, karena perselisihan padanya tetap pada proporsinya, tidak dikatakan keduanya sepakat atas batal sholatnya karena sesungguhnya kata kita “ Kesepakatan itu terbit dari susunan dari dua Qadiyyah dan hal itu tidak merusak pada taqlid. Dan sepertinya juga apabila seorang bertaqlid kepada Imam Ahmad dalma hal aurat itu dua kemaluan saja dan adalah ia sesungguhnya telah meninggalkan berkumur-kumur memasukkan air ke hidung dan membaca Bismillah yang kesemuanya itu menurut Imam Ahmad adalah wajib didalam wudhu, maka menurut apa yang nyata adalah sah sholatnya, karena keduanya tidak sepakat atas batal taharanya adalah didalam satu Qadhiyyah.


0 Response to "Bolehkah Dalam Satu Ibadah Memakai Lebih Dari Satu Madzhab"

Posting Komentar